BRMP Kepri Dampingi Pemeriksaan Pertumbuhan Padi Fase Generatif Produksi Benih Sumber TA 2026
Bintan – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kepulauan Riau terus memastikan mutu benih sumber padi spesifik lokasi yang diproduksi pada Tahun Anggaran 2026 melalui pendampingan intensif di lapangan. Salah satu tahapan penting dilaksanakan pada Selasa (28/7/2026) melalui pendampingan proses pemeriksaan pertumbuhan tanaman padi pada fase generatif oleh Pengawas Benih Tanaman (PBT) dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) UPT Balai Perbenihan Pengawasan dan Sertifikasi serta Perlindungan Tanaman Pangan,Hortikultura dan Perkebunan (BPPSP TPHP) Provinsi Kepulauan Riau di demplot perbenihan Kelompok Tani Poyotomo Makmur, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Kepala BRMP Kepulauan Riau Rudi Hartono, bersama Penanggung Jawab Produksi Benih Sumber Padi Spesifik Lokasi Firsta Anugerah Sariri, S.P. beserta tim sebagai bentuk komitmen BRMP Kepulauan Riau dalam menghasilkan benih sumber yang memenuhi standar mutu dan layak memperoleh sertifikasi.
Pemeriksaan pada fase generatif merupakan tahapan krusial dalam proses sertifikasi benih karena bertujuan memastikan pertanaman tetap memenuhi persyaratan teknis perbenihan. Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap kemurnian varietas, keseragaman pertumbuhan tanaman, kesehatan tanaman, tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), keberadaan tanaman menyimpang (off-type), serta kondisi pertanaman secara keseluruhan. Hasil pemeriksaan menjadi dasar dalam menentukan kelayakan pertanaman untuk dilanjutkan hingga panen sebagai calon benih bersertifikat.
Pengawas Benih Tanaman (PBT) Hairun Syahri menyampaikan bahwa kondisi pertanaman pada umur 67 Hari Setelah Tanam (HST) menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Menurutnya, tanaman memiliki pertumbuhan yang seragam, batang kokoh, jumlah anakan produktif optimal, daun berwarna hijau sehat, malai berkembang dengan baik, serta tidak ditemukan penyimpangan varietas yang berarti sehingga secara umum memenuhi kriteria pertanaman benih.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, pertumbuhan tanaman pada umur 67 HST berada dalam kondisi baik. Keseragaman tanaman cukup tinggi, pertumbuhan malai berlangsung normal, tanaman tampak sehat, dan kemurnian varietas tetap terjaga. Kondisi ini menjadi modal yang sangat baik untuk menghasilkan benih sumber yang memenuhi persyaratan sertifikasi," ujar Hairun.
Sementara itu, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) RR Marisa Fajar Nastiti menjelaskan bahwa selama pemeriksaan ditemukan adanya serangan penyakit blas serta hama walang sangit dan wereng. Namun demikian, intensitas serangannya masih tergolong sangat rendah sehingga belum memengaruhi kelayakan pertanaman sebagai lahan produksi benih.
“Serangan OPT yang ditemukan masih dalam persentase yang sangat kecil sehingga pertanaman masih sangat layak untuk kegiatan perbenihan. Namun demikian, pengendalian harus segera dilakukan agar penyebaran tidak berkembang dan tidak menurunkan mutu maupun produktivitas benih," jelas Marisa.
Ia juga merekomendasikan agar petani bersama tim pendamping segera melaksanakan pengendalian OPT secara tepat sesuai prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), melakukan monitoring rutin menjelang pengisian bulir, menjaga kebersihan lahan, serta memberikan pengamanan intensif terhadap serangan burung pada fase pemasakan bulir. Menurutnya, apabila kondisi pertanaman dapat dipertahankan hingga panen, target produksi 2 ton benih sumber per hektare sangat berpeluang untuk dicapai.
Kepala BRMP Kepulauan Riau, Rudi Hartono menyampaikan bahwa pendampingan bersama instansi teknis perbenihan merupakan bagian dari upaya menjamin kualitas benih sejak di lapangan. Benih sumber yang tersertifikasi akan menjadi fondasi penting dalam penyediaan benih bermutu bagi petani di Provinsi Kepulauan Riau.
"Sinergi antara BRMP Kepulauan Riau dengan UPT BPPSP TPHP Kepri menjadi kunci dalam memastikan setiap tahapan produksi benih berjalan sesuai standar. Benih yang tersertifikasi akan memberikan jaminan mutu, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus mendukung percepatan Program Swasembada Pangan, khususnya pengembangan padi spesifik lokasi di Provinsi Kepulauan Riau dan wilayah sekitarnya," ujar Rudi Hartono.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, BRMP Kepulauan Riau optimistis produksi benih sumber padi spesifik lokasi Tahun Anggaran 2026 mampu menghasilkan benih unggul yang berkualitas, tersertifikasi, dan siap dimanfaatkan sebagai sumber benih bagi pengembangan budidaya padi di wilayah Kepulauan Riau, sehingga semakin memperkuat ketahanan pangan dan mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional.