Petani Lahan Kering Bintan Panen Padi dan Jagung Sekaligus Lewat Sistem Tumpang Sari
BINTAN – Inovasi pertanian kembali ditunjukkan oleh petani di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Petani di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, berhasil memanen padi dan jagung secara bersamaan melalui sistem tumpang sari di lahan kering.
Salah satu petani, Gito dari Kelompok Tani (Poktan) Tunas Jaya, memanfaatkan lahannya dengan menanam padi lahan kering tanpa menghilangkan tanaman jagung yang biasa dibudidayakan. Model tumpang sari padi dan jagung ini mulai diterapkan pada musim tanam ketiga akhir tahun lalu, dan kini hasilnya mulai dirasakan oleh para petani.
Panen bersama tersebut digelar pada Kamis (12/03/2026) dan dihadiri oleh Penanggung Jawab Swasembada Pangan Provinsi Kepulauan Riau sekaligus Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kepri, Rudi Hartono. Ia hadir bersama penanggung jawab swasembada pangan Kabupaten Bintan serta Ketua Kelompok Substansi Penerapan dan Penilaian Kesesuaian BRMP Kepri.
Turut hadir pula perwakilan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bintan yang diwakili Kepala Bidang Tanaman Pangan Ita Rosmeili beserta tim, Kapoksi Pengelolaan Penyuluhan Provinsi Kepri, Penyuluh Pertanian Lapangan, serta unsur pemerintah daerah seperti Sekretaris Camat Gunung Kijang dan Sekretaris Desa Malang Rapat. Kehadiran mereka disambut oleh Ketua Poktan Tunas Jaya Rama Ria bersama anggota kelompok yang merayakan keberhasilan panen program pengembangan padi lahan kering tahun 2025.
Dalam budidaya tersebut, petani menggunakan varietas padi Cakrabuana Agritan. Varietas ini dikenal sebagai padi sawah irigasi berumur genjah yang memiliki kemampuan beradaptasi pada lahan kering. Hasilnya cukup menggembirakan, dengan produksi ubinan mencapai sekitar 5,1 kilogram per hektar.
Rudi Hartono menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari penerapan teknologi budidaya yang tepat. Menurutnya, mulai dari pengolahan lahan yang baik, penggunaan varietas unggul baru (VUB) dan benih bersertifikat, pemupukan berimbang, hingga sistem pengairan modern menjadi faktor penting dalam meningkatkan produksi.
Pada praktiknya, lahan milik Gito menggunakan sistem pengairan sprinkle yang memanfaatkan embung di samping rumahnya. Dengan dukungan irigasi pompa, kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi meskipun wilayah Bintan jarang diguyur hujan selama masa pertumbuhan tanaman.
Menariknya, selain memanen padi, para petani juga berhasil memanen jagung pipilan hibrida yang ditanam bersamaan di lahan yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa sistem tumpang sari mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus memberikan dua hasil panen dalam satu musim.
Rudi menilai kreativitas dan inovasi pengelolaan lahan seperti yang dilakukan Poktan Tunas Jaya perlu diperluas agar dapat ditiru petani lain. Sebagai tindak lanjut, BRMP Kepri bersama DKPP Bintan dan PPL akan membatu petani dalam melakukan proses pengusulan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) baik prapanen maupun pascapanen guna meningkatkan produktivitas, mengurangi kehilangan hasil, serta menekan kebutuhan tenaga kerja.
Kolaborasi antara BRMP Kepri, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bintan, serta pemerintah daerah diharapkan dapat memperluas diseminasi inovasi dan modernisasi pertanian, sehingga upaya swasembada pangan di Kabupaten Bintan dapat tercapai secara berkelanjutan.