BRMP Kepri Jadi Narasumber Pelatihan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Tanjungpinang
Tanjungpinang – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kepulauan Riau menjadi narasumber pada Pelatihan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) Kota Tanjungpinang di Bintan Plaza Hotel, Rabu (1/7). Pelatihan ini diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari Tim Penggerak PKK dan Kelompok Wanita Tani (KWT) se-Kota Tanjungpinang.
Kegiatan menghadirkan narasumber dari BRMP Kepulauan Riau, yaitu Jonri Suhendra Sitompul dan Astrid Fransisca. Selain itu, turut hadir narasumber dari Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang serta praktisi pemanfaatan TOGA Ketua KWT Sirih Merah.
Acara diawali dengan laporan Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kota Tanjungpinang Robert Lukman kemudian secara resmi dibuka oleh Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah. Hadir pula Kepala BRMP Kepulauan Riau Rudi Hartono, Asisten II Pemerintah Kota Tanjungpinang Elfiani Sandri, para narasumber, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Wali Kota Tanjungpinang mengajak seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh agar ilmu yang diperoleh dapat diterapkan di lingkungan masing-masing. Menurutnya, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan secara simbolis bibit tanaman obat kepada perwakilan peserta.
Pada sesi pertama, Jonri Suhendra Sitompul menyampaikan materi mengenai teknik budidaya tanaman obat keluarga, mulai dari pengenalan berbagai jenis tanaman TOGA, pemilihan bibit, persiapan media tanam, penanaman, pemeliharaan, hingga panen. Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti praktik pembuatan media tanam. Suasana pelatihan berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi, terlihat dari aktifnya diskusi, sesi tanya jawab, dan kuis yang dipandu oleh narasumber.
Sesi kedua dipandu oleh Astrid Fransisca memaparkan penanganan pascapanen, pengolahan hasil, serta peluang pengembangan usaha berbasis tanaman obat keluarga. Dalam paparannya, Astrid menjelaskan pentingnya pengolahan hasil panen untuk meningkatkan nilai tambah produk dengan mencontohkan pengolahan jahe merah menjadi serbuk jahe merah instan. Materi yang disampaikan meliputi latar belakang pengembangan produk, tahapan proses produksi, teknik pengemasan, strategi branding, pemasaran, hingga potensi pengembangan usaha berbasis tanaman obat di Kota Tanjungpinang. Untuk meningkatkan partisipasi peserta, narasumber juga membagikan sampel produk serbuk jahe merah instan kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan.
Sebagai penutup, seluruh peserta mengikuti praktik pembuatan serbuk jahe merah instan, mulai dari persiapan bahan baku, proses pengolahan, hingga menghasilkan produk yang siap dikemas dan dibawa pulang. Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan serta memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mengolah hasil tanaman obat menjadi produk bernilai tambah dan memiliki potensi ekonomi.
Melalui pelatihan ini diharapkan masyarakat, khususnya anggota PKK dan Kelompok Wanita Tani, semakin termotivasi untuk mengembangkan tanaman obat keluarga di lingkungan rumah tangga. Selain mendukung pemanfaatan tanaman obat sebagai upaya menjaga kesehatan keluarga, kegiatan ini juga diharapkan dapat membuka peluang usaha baru yang mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di Kota Tanjungpinang.