Cetak Sejarah! BRMP Kepri Kawal Perbenihan Padi Lahan Kering Perdana di Bintan
BINTAN — Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kepulauan Riau mencetak sejarah baru dalam dunia pertanian lokal melalui peluncuran program perbenihan padi lahan kering (padi gogo) perdana di wilayah Kepri. Langkah strategis ini ditandai dengan aksi penanaman bersama yang digelar di lahan Kelompok Tani (Poktan) Horti Utama, Kelurahan Toapaya Asri, Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan, pada Jumat (29/5/2026).
Program ini menjadi tonggak penting dalam upaya mewujudkan "Kepri Mandiri Benih". Poktan Horti Utama, yang diketuai oleh Irwanto dengan petani kooperator Slamet Supriadi—yang juga dikenal sebagai produsen dan pengedar benih tanaman pangan terkemuka di Bintan—resmi ditunjuk sebagai lembaga penerap standar yang didampingi langsung oleh BB PMP Kepri pada Tahun Anggaran (TA) 2026.
Perbenihan padi lahan kering perdana ini mengandalkan Varietas Cakrabuana Agritan. Varietas ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan karena memiliki rekam jejak keberhasilan yang baik sejak diperkenalkan pada TA 2025 di berbagai lahan perkebunan dan lahan kering Kepri.
Masyarakat Bintan, khususnya para petani lahan kering, sudah sangat akrab dengan karakteristik padi ini. Keunggulan utama Cakrabuana Agritan meliputi: 1) umur genjah (cepat panen) sangat adaptif untuk menyiasati fluktuasi cuaca dan iklim di Kepri; 2) produksi optimal, yaitu tetap mampu menghasilkan produktivitas tinggi meski ditanam di lahan kering; 3) fleksibilitas tinggi, meskipun genetik aslinya adalah padi sawah irigasi, varietas ini terbukti sangat tangguh saat ditanam di ladang (lahan kering). Keunggulan ganda ini membuat benih yang dihasilkan nantinya bisa dimanfaatkan oleh petani sawah maupun petani ladang di seluruh Kepri.
Guna menjamin mutu dan kualitas benih yang dihasilkan, BRMP Kepri menerapkan standar budidaya modern yang sangat ketat. Proses pendampingan ini mengacu pada tiga pilar standardisasi nasional, yaitu: 1) SNI 8969:2021 tentang Indonesia Good Agricultural Practices (Indo GAP) untuk memastikan praktik budidaya yang baik dan ramah lingkungan; 2) SNI 9356 tentang Produksi Benih Padi Sehat; 3). SNI 6233:2025 tentang Benih Padi Inbrida.
Selama proses di lapangan, para petani tidak berjalan sendiri. Mereka mendapatkan kawalan intensif dari Pengawas Benih Tanaman (PBT) serta Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit sejak dini.
Keberhasilan agenda penanaman bersama ini tidak lepas dari kolaborasi kuat (multi-pihak) yang digalang oleh BRMP Kepri. Sejumlah instansi strategis turut ambil bagian di lokasi, antara lain: DKPDKH Kepri melalui UPT Balai Perbenihan, Pengawasan, dan Sertifikasi serta Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (BPPSP TPHP), Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bintan, Stasiun Meteorologi Kelas II Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang (BMKG) untuk akurasi prediksi cuaca, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kelurahan Toapaya Asri yang ikut mengawal kondusivitas di lapangan.
Melalui pendampingan penerapan standar budidaya yang intensif ini, hasil produksi benih dari Poktan Horti Utama diharapkan mampu mencapai target optimal. Benih yang dipanen nantinya akan dijadikan stok utama untuk memenuhi seluruh kebutuhan benih padi lokal secara mandiri bagi masyarakat di Kepulauan Riau.