Kepala BRMP Kepri Dorong Sinergi Antisipasi Kekeringan dan Penguatan Ketahanan Pangan di Bintan
Bintan, 9 Juni 2026 – Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kepulauan Riau menghadiri Rapat Koordinasi dan Antisipasi Kekeringan Daerah Irigasi Bintan Buyu di Provinsi Kepulauan Riau yang berlangsung di Ruang Rapat Dinas PUPR dan Pertanahan Kabupaten Bintan, Selasa (9/6). Dalam kegiatan tersebut, Kepala BRMP Kepulauan Riau didampingi oleh Ketua Kelompok Substansi (Kapoksi) Penerapan dan Penilaian Kesesuaian, Kapoksi Pendampingan Modernisasi Pertanian, serta Ketua Tim Kerja Penerapan dan Diseminasi BRMP Kepulauan Riau.
Rapat koordinasi dibuka oleh Kepala Dinas PUPRP Kabupaten Bintan Wan Affandi dan sambutan Atin Supriatna selaku Plh. Kepala BWS Sumatera IV. Acara juga dihadiri oleh BMKG, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bintan, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepulauan Riau, dan instansi terkait lainnya serta Tim Kerja OP SDA Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV selaku penyelenggara. Pertemuan ini dilaksanakan sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada akhir Juni hingga Agustus 2026.
Dalam sambutannya, Kepala BRMP Kepulauan Riau, Rudi Hartono menegaskan bahwa selain mendukung Pilot Project Daerah Irigasi Bintan Buyu yang diinisiasi BWS Sumatera IV, BRMP Kepri juga melaksanakan dua kegiatan strategis lainnya di lokasi tersebut yaitu produksi benih sumber padi spesifik lokasi dan penerapan teknologi pertanian adaptif serta modern melalui teknologi PM AAS (Pertanian Modern Agricultural Advanced System).
"Untuk mendukung terlaksananya beberapa kegiatan tersebut, sinergi dan kolaborasi lintas sektor menjadi sangat penting dalam melakukan mitigasi terhadap potensi kekeringan yang diperkirakan terjadi beberapa bulan ke depan, khususnya untuk menjaga keberlangsungan budidaya padi yang saat ini sedang berlangsung di tingkat petani," ujar Rudi Hartono.
Ia juga menyampaikan bahwa salah satu upaya yang dapat didorong Kementerian Pertanian adalah pengajuan bantuan pemerintah berupa pompa dan jaringan perpipaan melalui dinas maupun penyuluh pertanian guna mengantisipasi rendahnya curah hujan selama musim kemarau. Dukungan yang telah diberikan oleh BWS Sumatera IV dan Pemerintah Kabupaten Bintan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan air bagi pertanian.
Pada kesempatan tersebut, Dadang Ridwan Kepala Satker OP SDA BWS Sumatera IV memaparkan perkembangan pengelolaan Pilot Project Daerah Irigasi Bintan Buyu. Saat ini telah dilakukan penanaman padi sejak 19 Mei 2026 dengan berbagai metode, meliputi sistem tanam pindah, tanam benih langsung (tabela), sistem mina padi, produksi benih sumber, budidaya padi konsumsi, serta penerapan teknologi PM AAS. Pengelolaan air juga telah menerapkan sistem pengairan berselang atau *Alternate Wetting and Drying (AWD)* guna meningkatkan efisiensi penggunaan air.
Dalam laporannya, Dadang juga mengharapkan dukungan BRMP Kepri dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman dan pendampingan petani, serta meminta masukan BMKG terkait langkah antisipasi dampak kekeringan di kawasan Daerah Irigasi Bintan Buyu.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, Ahmad Kosasih, memaparkan bahwa potensi kekeringan di Kepulauan Riau diperkirakan mulai meningkat pada periode Juli–Agustus–September (JAS) 2026. Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Kabupaten Bintan, Kota Tanjungpinang, sebagian Batam, Lingga, Natuna, Anambas, dan Tambelan.
Menurut BMKG, fenomena El Niño diperkirakan menjadi faktor utama yang berpotensi menurunkan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Meski demikian, kondisi suhu muka laut di sekitar Kepulauan Riau yang relatif netral hingga positif diperkirakan dapat mengurangi dampak kekeringan yang lebih ekstrem. Ancaman yang perlu diwaspadai tidak hanya kekeringan meteorologis, tetapi juga kekeringan hidrologis, krisis air bersih di pulau-pulau kecil, serta peningkatan risiko kebakaran lahan.
Dalam sesi diskusi yang dipandu oleh Nul Hanif Sutama dari BWS Sumatera IV, berbagai masukan disampaikan terkait keberlanjutan produksi padi di Bintan Buyu. Salah satunya menyoroti pentingnya regenerasi petani, penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian, serta penyusunan analisis usaha tani yang mampu memberikan keuntungan dan menarik minat generasi muda.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BRMP Kepulauan Riau menegaskan bahwa dukungan teknologi, benih, dan sarana produksi akan terus diberikan untuk mendorong produksi padi berkelanjutan di Kepulauan Riau. Ia menilai bahwa perubahan budaya masyarakat dari dominasi sektor perikanan menuju pertanian pangan membutuhkan proses dan dukungan berbagai pihak.
"Penerapan teknologi PM AAS menjadi salah satu terobosan penting bagi wilayah Kepulauan Riau yang memiliki dinamika cuaca cukup tinggi. Teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi tenaga kerja, mempercepat adaptasi budidaya, serta memperpendek umur tanaman. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada dukungan data prakiraan cuaca yang akurat, terutama dalam menentukan waktu tanam sistem tabela," jelasnya.
Rapat menghasilkan sejumlah kesepakatan tindak lanjut, di antaranya optimalisasi pemanfaatan air embung melalui penggunaan pompa darurat yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi sistem permanen, pemanfaatan saluran drainase sebagai penampungan air (*long storage*), penentuan skema pengelolaan irigasi yang sesuai untuk Daerah Irigasi Bintan Buyu, serta upaya peningkatan minat petani melalui jaminan bahwa usaha tani padi merupakan kegiatan yang prospektif dan menguntungkan.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BWS, BMKG, penyuluh pertanian, dan petani, diharapkan berbagai langkah mitigasi yang telah direncanakan mampu menjaga keberlanjutan produksi padi dan memperkuat ketahanan pangan di Kepulauan Riau menghadapi potensi musim kemarau tahun 2026.