Memasuki Fase Masak, BRMP Kepri Monitoring Demplot Padi PM-AAS di Bintan
Bintan – Penerapan inovasi teknologi pertanian terus didorong sebagai salah satu upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani. Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kepulauan Riau terus melakukan pendampingan, monitoring, dan evaluasi terhadap kegiatan Teknologi Terapan Pertanian Adaptif dan Modern melalui penerapan Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Kegiatan budidaya padi dengan menerapkan teknologi PM-AAS yang dilaksanakan BRMP Kepri sejak 3 Juni 2026 kini telah memasuki fase masak. Untuk memastikan perkembangan tanaman serta kesiapan menuju masa panen, tim monitoring dan evaluasi bersama Kepala BRMP Kepri, Rudi Hartono, melakukan pemantauan langsung terhadap demplot padi di lahan persawahan Kelompok Tani Poyotomo Makmur, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, pada Selasa, 8 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala BRMP Kepri didampingi oleh Penanggung Jawab Kegiatan, Gokma Ampetua Siregar, Ketua Kelompok Substansi Penerapan dan Penilaian Kesesuaian, Ketua Kelompok Substansi Pendampingan Modernisasi Pertanian, serta Ketua Tim Kerja Penerapan dan Diseminasi.
Turut hadir Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan Pengawas Benih Tanaman (PBT) dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepulauan Riau. Kehadiran POPT dalam kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pengamatan terhadap kondisi tanaman serta memastikan tidak terdapat serangan organisme pengganggu tumbuhan yang berpotensi menurunkan hasil hingga menjelang panen. Sementara itu, PBT turut melakukan pengamatan terhadap kondisi pertanaman dan karakteristik varietas yang dibudidayakan sebagai bagian dari dukungan teknis dan pengawasan mutu tanaman.
Berdasarkan hasil monitoring di lapangan, pertanaman padi PM-AAS telah memasuki umur 97 Hari Setelah Sebar (HSS). Perhitungan umur tanaman menggunakan satuan HSS karena metode penanaman padi dalam penerapan PM-AAS dilakukan dengan tanam benih langsung (tabela) menggunakan alat drum seeder, bukan melalui persemaian dan pindah tanam.
Hasil pengamatan menunjukkan tanaman telah memasuki fase masak dan perkembangan bulir padi berlangsung dengan baik. Secara umum, pertanaman diperkirakan telah dapat dipanen pada minggu berikutnya ketika memasuki umur sekitar 104-105 HSS, dengan memperhatikan kondisi kemasakan bulir di lapangan.
Monitoring ini juga menjadi bagian penting dalam evaluasi penerapan teknologi hingga menjelang panen. Kondisi pertanaman, perkembangan fase generatif, tingkat kemasakan bulir, serta kesiapan pelaksanaan panen menjadi perhatian tim untuk memastikan seluruh tahapan kegiatan dapat dilaksanakan dengan baik.
Hasil panen dari demplot PM-AAS nantinya akan menjadi salah satu bahan penting dalam mengevaluasi keberhasilan penerapan teknologi. Produktivitas dan hasil produksi yang diperoleh akan dibandingkan dengan kondisi atau pola budidaya yang selama ini diterapkan petani.
Evaluasi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai potensi penerapan teknologi PM-AAS sebagai salah satu alternatif inovasi budidaya padi yang adaptif terhadap kondisi pertanian di Kepulauan Riau. Selain hasil produksi, evaluasi juga akan mencakup aspek penerapan teknologi, pertumbuhan tanaman, efisiensi budidaya, serta peluang pengembangan teknologi pada skala yang lebih luas.
Kepala BRMP Kepri, Rudi Hartono, bersama tim terus mendorong agar penerapan teknologi pertanian modern tidak berhenti pada kegiatan percontohan. Demplot yang dilaksanakan di lahan Poktan Poyotomo Makmur diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran sekaligus bukti penerapan teknologi yang dapat dilihat secara langsung oleh petani dan pemangku kepentingan.
“Ke depan, teknologi PM-AAS diharapkan dapat terus didiseminasikan dan diterapkan oleh petani sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produksi padi dari luasan lahan eksisting. Peningkatan produksi tidak selalu harus dilakukan melalui penambahan luas lahan, tetapi juga dapat ditempuh melalui optimalisasi lahan dan penerapan inovasi teknologi budidaya yang lebih adaptif dan modern”, ujar Rudi.
Di Provinsi Kepulauan Riau, teknologi PM-AAS telah mulai diterapkan di Kabupaten Natuna. Harapannya, pada musim tanam ketiga tahun 2026, penerapan PM-AAS dapat diperluas ke kabupaten dan kota lainnya di Provinsi Kepulauan Riau, termasuk di Kabupaten Bintan.
Melalui penerapan inovasi yang tepat, pendampingan yang berkelanjutan, serta kolaborasi antara BRMP Kepri, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani, teknologi PM-AAS diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif dalam mendorong modernisasi pertanian dan meningkatkan produksi padi di Kepulauan Riau.